Recent Adventures

Melihat Keindahan Pantai Kuta Bali di Saat Sunset Tiba

Keindahan di Pantai Kuta Bali menjelang terbenamnya matahari memang luar biasa.

Bila kita berkunjung ke Bali jangan lupa datang ke pantai Kuta Bali sebelum jam 19.00. Karena memanag sunset di Kuta Bali sekitar jam 19.00 sampai jam 19.30.

Ini waktu yang menakjubkan untuk melihat keindahan sunset di Pantai Bali. Kita akan melihat warna langit kuning tembaga yang dihiasai awan keabuan, kekuning-kuningan bahkan pelangi juga sering terlihat disaat sehabis hujan yang menambah keindahan panorama di Pantai Kuta Bali ini.

Warna temaran kemerahan kemudian akan semakin meredup seiring dengan berjalannya waktu berganti petang dan kemudian malam.

Aktivitas nelayan diwaktu menjelang sore biasanya sudah mulai berkurang, akan banyak perahu nalayan atau perahu wisata yang memarkirkan perahunya di bibir pantai.

Deretan perahu yang bergerak-gerak diterpa ombak dan terikat menjadi paduan suasana menjelang terbenamnya matahari di timur pantai kuta.

Rumah, hotel, dan cottage yang berderet-deret di pantai Kuta ini sudah menghidupkan lampu-lampu yang memberi warna kuning diantara bangunan-bangunan di tepi pantai Kuta itu.

Semakin lama kita berjalan-jalan dipantai warna kebiruan dan kemerahan langit semakin menghitam dan abu-abu. Disaat sunset ini laut terlihat tenang dan angin tidak sekuat disiang hari. Sangat cocok untuk mencari inpirasi dan merenung sambil melihat keindahan alam.

Bulatan merah matahari semakin tenggelam dan terlihat warna merah diujung batas laut yang bergerak-gerak mengikuti ombak.

Sesekali perahu-perahu wisatawan atau nelayan yang meliwati warna merah tersebut. Sebuah momen paling cantik untuk diphoto.

Warna gelap berbentuk perahu dengan background warna kemerahan laut dan kuning kemerahan matahari yang mulai tenggelam ini sangat luar biasa.

Jika bersama teman atau keluarga bisa bercerita banyak sambil menikmati keindahan sunset ini. Sekedar berbincang riangan dan minuman penghamat akan cukup menemani suasana ini. Jika bersama pacar paling tepat untuk segera membicarakan masa depan, semoga suasana yang indah ini akan membuka ruang bagi saling pengertian kedua belah pihak, dan si dia bisa menerima lamaran Anda.

Pada pantai Kuta ada banyak tempat duduk yang sudah disediakan untuk para wisatawan. Kita juga bisa mengisi perut di restoran-restoran sea food disepanjang pantai kuta ini.

Photografer : Adli Irvansyah dan Yudie

Lokasi Pantai Kuta oleh Google Maps:


View Larger Map

Pura Tirta Empul Dekat Istana Tampak Siring di Kabupaten Gianyar, Bali


Selain keindahan alam Bali yang mempesona, budaya dan adat istiadat juga memberikan ruang sendiri bagi pariwisata Bali. Salah satu objek wisata yang paling terkenal ada di Gianyar, yaitu Pura Tirta Empul yang berdekatan dengan istana Presiden, yaitu Istana Tampak Siring yang dulu sering di singgahi oleh Presiden Pertama Ir. Soekarno.

Pura Tirta Empul ini salah satu unggulan dari wisata Gianyar. Letak Pura Tirta Empul berada di Desa Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali. Kondisi alam di sini masih hijau dan udara yang segar. Pada umumnya masyarakat disini mencari nafkah dengan cercocok tanam.

Pura ini memang menjadi tempat ritual masyarakat Hindu Bali. Mereka memiliki tgradisi melukat atau pensucian diri dengan air (tirta) yang memancur di kolom di Pura Tirta Empul ini. Air ini berasal dari mata air yang cukup banyak dan sudah lama mengalir.

Lokasi Pura Tirta Empul terbagi dalam tiga bagian yang merupakan Jabe Pura (halaman muka), Jabe Tengah (halaman tengah), dan Jeroan (bagian dalam). Pada Jabe Tengah terdapat dua buah kolam persegi empat panjang, dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari timur ke barat menghadap ke selatan.

Keberadaan air ini diiringi dengan cerita rakyat Bali, yang dalam kisah ada seorang raja yang sangat jahat bernama  Mayadenawa Raja Batu Anyar (Bedahulu). Kesaktian Mayadenawa sangat tersohor, tetapi kejahatan, kesombongan dan keangkuhan Mayadenawa ini terdengar sampai ke telinga Bhatara Indra.

Suatu waktu Batara Indra mengutus pasukan untuk menghukum Mayadenawa, tetapi pasukan itu diracun oleh Mayadewana.

Untuk menolong para prajurit Batara Indra, kemudian mereka dimandikan dengan melukat di Pura Tirta Empul ini. Sedangkan istilah Tampak Siring berasal dari Mayadenawa yang didiam-diam berlari di Tampak Siring dengan terlihat memiringkan telapak kaki. Istilah ini telapak miring berubah menjadi Tampak Siring.

Tirta Empul berarti air suci yang menyembul keluar dari tanah. Air tersebut kemudian mengalir ke sungai Pakerisan. Sumber air ini kerap digunakan untuk Upacara Melukat oleh ribuan penduduk Bali dengan makna sebagai perlambang pembersihan.

Air yang mengalir dari banyak pancoran ini sangat jernih dan segar. Kesegaran air ini membuat banyak wisatawan ikut mandi di taman petirtaan itu.

Mereka diwajibkan menggunakan kain bagi yang pria dan dilarang menggunakan celana pendek bagi yang wanita.

Dibagian luar dari Pura Tirta Empul terdapat para pedagang yang menjual oleh-oleh untuk dibawa pulang kerumah dengan harga yang murah. Salah satu yang khas adalah jeruk Bali. Jeruk Bali ini tidak saja dijual sebagai buah tetapi juga sudah diolah menjadi berbagai macam makanan ringan yang berasal dari jeruk bali.



Photografer : Adli Irvanysah dan Yudie

Lokasi Pura Tirta Empul di Gianyar Bali oleh Google Maps:


View Larger Map

Melihat Sejarah Bali dari Goa Gajah

Goa Gajah merupakan salah satu situs kepurbakalaan yang dilindungi yang berada di wilayah Banjar/Dusun Goa, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Goa Gajah ini berjarak 6 Km dari Ubud.

Untuk memasuki Goa Gajah pengunjung akan melalui selatan goa. Pertama kali akan dilewati kolam petirtaan yang memancur 6 buah arca pancuran.

Bagian komplek yang lebih dikenal sebagai Goa Gajah terletak di sebelah utara petirtaan. Disini pengunjung dapat melihat pahatan dalam bagian tebing yang menjorok keluar goa. Kedalaman goa ini sepanjang 9 meter.

Sebanarnya goa ini berada dibawah jalan antara Desa Tegas dan Desa Bedulu yang membentang dari barat ke timur.

Goa Gajah diperkirakan dibangun pada abad ke-10 Masehi. Fungsi Goa Gajah pada awalnya untuk tempat bertapa bagi para pendeta-pendeta Hindu Bali pada masa lalu. Pada waktu-waktu tertentu tempat ini juga menjadi lokasi acara-acara keagamaan.

Ada sesuatu yang membuat kita bertanya-tanya, tentang Goa Gajah ini karena tempat peribadatan Hindu ini juga ada patung Buddha. Terdapat sinkretisasi antara Hindu dan Budda pada masa lalu. Antara keturunan kerajaan Pajajaran Hindu dengan Kerajaan Majapahit Buddha. Kedua agama ini mempengaruhi budaya dan tradisi Bali. Sejarah purba tentang Bali sangat tergambar di Goa Gajah, kita bisa melihat bagaimana orang-orang Bali pada masa lalu melakukan ritual keagamaan yang kemudian diteruskan sampai generasi sekarang ini.

Dari Goa Gajah juga kita bisa melihat kedekatan hubungan sejarah dan darah antara masyarakat Bali dan sejarah Kerajaan Majapahit pada masa lalu. Masyarakat Hindu di Bali melestarikan pura bersejarah Goa Gajah memiliki falsafah Tri Kaya Parisudha. Ini berarti falsafah tersebut adalah menjaga pikiran, ucapan dan tindakan agar tetap bersih.

Kita bisa melihat bagaimana seni pahatan Bali yang dibangun pada masa purba. Ternyata Bali tidak hanya mempesona dari keindahan alamnya tetapi juga dari seni dan sejarah. Salah satu pahatan yang menarik adalah arca di kolom petirtaan. Ada 6 buah arca yang masing-masing membawa kendi yang diletakkan di bawah dada arca. Masing-masing kendi tersebut mengeluarkan air yang sampai sekarang ini masih memancar dengan lancar.

Hal yang manarik lainnya adalah mengenai arca yang paling sering mendapat perhatian wisatawan adalah arca Ganesha. Ganesha adalah lambang Dewa Kebijaksanaan dalam mitologi Hindu. Lambang Ganesha ini menjadi sombol salah satu perguruan tinggi terkenal di Indonesia, ITB.

Air pada kolom yang disebut sebagai tirta tersebut tergenang disebuah kolom yang luas. Kita bisa menyaksikan ikan-ikan hias pada kolom petirtaan ini. Ikan ini sangat dijaga dan bagi masyarakat setempat memiliki arti tersendiri tentang keberadaan ikan-ikan tersebut.

Photografer : Adli Irvansyah

Lokasi Goa Gajah di Ubud oleh Google Maps:


View Larger Map

New Year in Lampung






Rumah Adat Masyarakat Komering, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan








Lokasi Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan dengan Google Maps:


Lihat Peta Lebih Besar

Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta yang Tertua di Indonesia

Stasiun Kereta Api Yogyakarta dikenal sebagai salah satu tempat pemberhentian kereta tertua di Indonesia yang terletak dijantung kota Yogyakarta, dekat dengan objek wisata serta pusat belanja kawasan Malioboro.


Sejarahnya stasiun ini mulai beroperasikan sejak tanggal 2 Mei 1887 ini merupakan stasiun kereta api kedua di kota Yogyakarta setelah Stasiun Lempuyangan yang telah dioperasikan 15 tahun lebih awal.

Jalur kereta api di kota Yogyakarta pada awalnya dibangun untuk kebutuhan pengangkutan hasil bumi dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya yang menghubungkan kota-kota Yogyakarta — Solo — Semarang. Baru tahun 1905, Stasiun Yogyakarta mulai melayani kereta penumpang.

Stasiun Yogyakarta saat ini sudah menjadi stasiun besar dengan enam jalur kereta yang melayani kereta kelas bisnis dan eksekutif untuk berbagai kota tujuan di Pulau Jawa. Namun jalur ke kota Semarang via Magelang justru sudah tidak beroperasi.

Salah satu keunikan stasiun ini adalah letak bangunan stasiun diapit oleh peron dan jalur kereta api. Komposisi itu disebut stasiun dua sisi, yaitu komposisi yang biasanya digunakan pada stasiun antara yang cukup besar.

Fasad atau bagian depan bangunan yang sekaligus pintu masuk utama stasiun menghadap ke arah Timur atau ke arah Jalan Mangkubumi yang merupakan poros kota Yogyakarta. Selain sebagai sebagai stasiun penumpang, Stasiun Yogyakarta hingga saat ini juga masih berfungsi sebagai tempat perawatan kereta. Fasilitas tersebut terletak di bagian barat stasiun dan sedikit terpisah dari bangunan utama dan peron penumpang.

Dari bagian depan bangunan itu dapat dikenali ciri arsitektur langgam Indische Empire yang banyak dianut pada akhir abad ke 19 dan menjadi gaya arsitektur kolonial modern pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda.
Salah satu cirinya adalah susunan denah dan tampak bangunan yang simetris terkesan rapi dan sederhana, tidak terdapat bentuk-bentuk yang berlebih-lebihan yang juga merupakan pengaruh dari Neo Renaissance. Tetapi pengaruh awal arsitektur modern juga terlihat kuat dengan ornamentasi bergaya Art Deco, berupa komposisi garis — garis vertikal dan horizontal serta lubang-lubang dinding roster yang berguna untuk cross ventilation sebagai pemberi karakter bangunan.

Pada kedua sisi terdapat bangunan terbuka dengan struktur baja beratap lebar yang memayungi area peron dan emplasemen.




Lokasi Stasiun Kereta Api Tugu di Yogyakarta oleh Google Maps:


Lihat Peta Lebih Besar

Menelusuri Jalan Malioboro di Yogyakarta yang Unik

Jalan Malioboro terletak di jantung Daerah Istimwewa Yogyakarta. Jalan tersebut berada antara jalan Jenderal Ahmad Yani dan jalan Abu Bakar Ali. Dijalan ini ada Kantor DPRD Di Yogyakarta.

Jalan Malioboro merupakan salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta. Ujung timur jalan ini berada di perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Jalan Malioboro memiliki sentuhan budaya, seni, dan karakter masyarakat Jawa Yogyakarta yang kental. Mulai dari adanya andong, becak, lapak-lapak masyarakat berjualan, pengamen dan sebagainya yang justru menjadi ciri yang khas dari Yogyakarta.

Malioboro sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, Malioboro menjadi kembang yang pesonanya mampu menarik wisatawan. Malioboro juga menjadi surga cinderamata di jantung Kota Jogja.

Pada awalnya jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan tersebut.

Orang-orang Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya, sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu. Sekarang pasar ini sangat ramai dan mewarnai Jalan Malioboro sebagai pusat belanja yang terkenal murah dan banyak ragamnya. Mulai dari pakaian batik, pernak pernik, sepatu, tas kulit, barang kerajinan dan seni.

Bagi penggemar cinderamata, Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Banyak sekali yang dapat dilihat disini. Ada miniatur sepeda, becak, kapal vinisi, patung-patung prajurit keraton dan sebagainya. Berjalan kaki di bahu jalan sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi pengalaman tersendiri.

Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan rotan, perak, kerajinan bambu, wayang kulit, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, asesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang terbilang murah.

Selesai jalan-jalan sambil berbelanja, jika lapar kita bisa memilih berbagai menu di lapak-lapak lesehan yang tersedia. Selain beragam rasa harganya juga tergolong ekonomi. Untuk pulau kita bisa memilih becak atau andong.

Datang ke Yogya belum dianggap datang kalau belum ke Jalan Malioboro begitu kata orang Yogya, mungkin kalimat ini ada benarnya kalau kita sudah kesana bisa merasakan keunikan Yogyakarta, yang pasti nama jalan ini sudah hampir sama dengan kota Jogja itu sendiri. Konon, ada yang bilang Jalan Malioboro yang terletak 800 meter di utara Kraton Yogyakarta ini, dulunya dipenuhi karangan bunga setiap kali kraton melaksanakan perayaan.

Ingin merasakan keunikannya datanglah ke Yogyakarta, banyak hal yang sulit untuk diceritakan tetapi bisa dirasakan.


Photografer : Heri Hidayat Makmun

Lokasi Jalan Malioboro di Yogyakarta oleh Google Maps:


Lihat Peta Lebih Besar

Warisan Budaya Dunia Candi Prambanan di Sleman Yogyakarta

Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.

Candi ini terletak di Kabupaten Sleman, Jawa Tengah, dekat dengan DI Yogyakarta. Untuk mencapai kesana dari Yogyakarta hanya diperlukan waktu 20 menit saja.


Candi ini mempunyai nama lain yaitu Candi Rara Jonggrang. Kompleks Prambanan merupakan bagian dari candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.

Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa sansekerta yang bermakna: 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Candi ini terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.[2] Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.

Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling bersaing; yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu dan wangsa Sailendra penganut Buddha.

Pastinya, dengan dibangunnya candi ini menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendra cenderung lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa.


Tahap awal pembangunan dimulai pada tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan dewa Siwa, dan nama asli bangunan ini dalam bahasa sansekerta adalah Siwagrha (sansekerta:Shiva-grha yang berarti: 'Rumah Siwa') atau Siwalaya (Sansekerta:Shiva-laya yang berarti: 'Ranah Siwa' atau 'Alam Siwa').

Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha tengah berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai di dekat candi ini.

Sungai yang dimaksud adalah sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat kompleks candi Prambanan. Sejarawan menduga bahwa aslinya aliran sungai ini berbelok melengkung ke arah timur, dan dianggap terlalu dekat dengan candi sehingga erosi sungai dapat membahayakan konstruksi candi.

Proyek tata air ini dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru yang memotong lengkung sungai dengan poros utara-selatan sepanjang dinding barat di luar kompleks candi. Bekas aliran sungai asli kemudian ditimbun untuk memberikan lahan yang lebih luas bagi pembangunan deretan candi perwara (candi pengawal atau candi pendamping).

Beberapa arkeolog berpendapat bahwa arca Siwa di garbhagriha (ruang utama) dalam candi Siwa sebagai candi utama merupakan arca perwujudan raja Balitung, sebagai arca pedharmaan anumerta beliau.[5] Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari "Para Brahman", yang mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana.

Kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, seperti raja Daksa dan Tulodong, dan diperluas dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Karena kemegahan candi ini, candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram, tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan.

Pada masa puncak kejayaannya, sejarawan menduga bahwa ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan upacara Hindu. Sementara pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram diduga terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Di dalam komplek Candi Prambanan ini dimulai dari pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:

3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68

Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan.[12] Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan. Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.

Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yan terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya. Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui; kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana dan murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan yang berdiri di halaman terluar ini terbuat dari bahan kayu, sehingga sudah lapuk dan musnah tak tersisa.

Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Tiga candi utama disebut Trimurti dan dipersembahkan kepadantiga dewa utama Trimurti: Siwa sang Penghancur, Wisnu sang Pemelihara dan Brahma sang Pencipta. Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter.

Dibalik kemegah seni bangunan Prabanan terdapat legenda yang melatarbelakanginya. Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam.

Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Tiket masuk ke komplek Prabanan ini dibedakan antara wisatawan lokal dengan mancanegara. Untuk wisatawan lokal tiket masuk sebesar Rp. 30.000,- untuk dewasa, dan Rp. 12.500,- untuk anak-anak. Sedangkan untuk mancanegara dikenakan tiket masuk US$10. Objek wisata ini dibuka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB.

Photografer : Heri Hidayat Makmun

Lokasi Candi Prambanan di Yogyakarta oleh Google Maps:


Lihat Peta Lebih Besar
 
Creating Template | Maskolis and Johny Template
Support : Copyright © 2013. Objek Wisata Indonesia - All Rights Reserved
Created Web by www.objekwisataindonesia.com, 2013